Yogya Semesta ke-74 “Apresiasi Karya Senitari”

admin  -  Dec 20, 2014  -  No Comments

Yogya Semesta ke -74 ini diadakan tidak seperti biasanya yakni pada hari Jum’at tanggal 20 Desember 2014. Yogya Semesta kali ini diadakan untuk menghargai karya seni anak didik SMKI dengan tema “Apresiasi Karya Senitari”. Dalam rangka mengapresiasi senitari pada tahun 2014 ini, Dialog Budaya & Gelar Seni “Yogya Semesta” ke-74 ini menghadirkan narasumber Drs. F. Sunardi, MPd dan Putria Retno P, SSn, Koreografer dan Asisten Tari. Yang akan dibahas oleh Dr. Lono Lastoro Simatupang, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada”, tinjauan aspek seni dan sastra narasi, Nyi KRT. Pujaningsih, SST, MS, Dosen Senitari ISI Yogyakarta & Pemulang Tari KHP. Kridha Mardawa, tinjauan aspek koreografi tari dan karawitan, Drs. Suharyoso SK, MSn, Dosen Seni Teater ISI Yogyakarta & Pengasuh Teater Alumni Gadjah Mada, tinjauan aspek seni peran dan teatrikal. moderator tetap yakni Bapak Hari Dendi yang merupakan Pengasuh Yogya Semesta.Gelar Seni berupa pergelaran senitari terpilih karya tari SMKN-1 (d/h. SMKI) Bugisan Bantul dpp. Drs. F. Sunardi, MPd, yaitu Tari Sekar Pinuja, Fragmen Alit Dasamuka Gugur, dan Sang Hanoman.

APRESIASI KARYA SENITARI

SECARA leksikal, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris apreciation, yang berasal dari kata kerja to apreciate, yang menurut kamus Oxford berarti to judge value of; understand or enjoy fully in the right way; dan menurut kamus Webstern adalah to estimate the quality of to estimate rightly to be sensitevely aware of. Jadi secara umum meng-apresiasi adalah mengerti serta menyadari sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.

Dalam kaitan dengan senitari, apresiasi berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk karya senitari, serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik, sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut secara obyektif. Dalam apresiasi, seorang penghayat sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis.

Tingkatan Karya Seni
Pengalaman estetis, menurut Albert R. Candler, adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif. Yakob Sumardjo (2000) menjelaskan, pengalaman seni adalah keterlibatan aktif dengan kesadaran yang melibatkan kecendekiaan, emosi, indera, dan intuisi manusia dengan lingkungan (benda seni). Dalam proses itu unsur perasaan dan intuisi lebih menonjol dibanding nalar. Itulah sebabnya, maka dalam proses tersebut penghayat seni seakan kehilangan jatidiri, karena seluruh perasaannya larut ke dalam obyek seni, dan inilah yang disebut empati.

Proyeksi perasaan tersebut bersifat subyektif dan sekaligus obyektif. Artinya subyektif karena penghayat menemukan kepuasan dari obyek seninya, dan obyektif karena proyeksi perasaan itu berdasarkan nilai-nilai yang melekat pada benda seni tersebut. Kualitas seni dalam karya senitari mengalirkan pengalaman secara dinamis, dan akhirnya mendatangkan kepuasan. Kualitas suatu karya biasanya muncul, karena adanya pola yang jelas yang terjalin pada unsur/elemen seni, sehingga membentuk sebuah struktur. Dalam senitari, struktur tersebut ada pada rasa unity, balance, harmony, rythm, proportion, point of interest, tetapi juga contrast dan discord (perbedaan dan perbantahan).

Menurut Soren Kierkegaard , seorang filsuf eksistensialis, hidup manusia mengalami tiga tingkatan, estetis, etis dan religius.
Dengan kehidupan estetis manusia mampu menangkap dunia dan sekitarnya. Lalu, dia menuangkan kembali rasa kekagumannya ke dalam karya seni. Dalam tingkatan etis, manusia mencoba meningkatkan kehidupan estetisnya dalam bentuk tindakan manusiawi, dengan bertindak bebas dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggung-jawabkan bagi sesama.

Akhirnya, manusia semakin sadar bahwa hidup mesti memiliki tujuan. Segala tindakan kemudian dipertanggung-jawabkan kepada yang Tuhan Yang Maha Esa.

Ekspresi Seni 
Seringkali kita dengar pernyataan, bahwa seni adalah ekspresi seseorang. Walaupun sesungguhnya persoalan ekspresi adalah lebih pada persoalan psikologis daripada persoalan benda seni itu sendiri, tetapi karena mengamati karya seni tidak sekadar melihat visual form, sehingga kita berusaha melihat adanya bentuk di balik bentuk. Maka, persoalan ekspresi ini menjadi penting dan menarik. Istilah ekspresi ini sering diartikan sebagai behavioral manifestations of the human personality –manifestasi perilaku dari kepribadian manusia. Atau kadang didiskripsikan sebagai perceiving with imagination.

Kalau yang pertama ditekankan pada pelakunya, yang kedua ditekankan pada penerima, dan pengamatnya. Karya seni adalah bentuk ekspresi yang diciptakan bagi persepsi kita lewat sensa atau pun pencitraan/imajinasi, dan apa yang diekspresikan adalah perasaan insani. Namun demikian, suatu konsepsi kehidupan, emosi dan kenyataan batiniah yang diekspresikan lewat karya seni pengekspresiannya tidak boleh instinktif dan stereotip. Artinya bahwa perlu jalan panjang, dengan pertimbangan penuh kesadaran untuk dapat mengekspresikan perasaan insaninya dengan tepat.

Sehingga ekspresi itu tidak jatuh menjadi tanda atau pun sekedar cerita tentang perasaan yang diulang-ulang. Dengan demikian, ekspresi rasa dalam karya seni bukanlah semata hal yang symptomatic. Misalnya, orang yang sedang dilanda kesedihan, karya seninya tidak akan mengekspresikan kesedihan itu. Baru, setelah gejala sedih itu mengendap dan mengkristal, kemudian dituangkan dalam karya, karya tersebut akan menyiratkan kesedihannya.

Dalam perjalanan sejarah, telah terbukti bahwa seni sebagai kreasi manusia tidaklah berdiri sendiri. Dia adalah simbol dari sejumlah gagasan, ide, imajinasi, atas responnya terhadap alam sekitar yang diolah dari getar perasaannya. Sebetulnya dalam berkarya seorang seniman tidak saja bekerja sebagai abdi alam, tetapi juga mencari makna dirinya sendiri, agar yang dilakukannya memiliki makna bagi dirinya dan sekitarnya, sebab tatkala manusia melahirkan kreasi pada benda-benda alamiah itu, batinnya pun semakin terbuka.

Wujud sebuah karya seni adalah representasi pengalaman-pengalaman estetis seseorang, ketika dia mencoba mencari jawaban atas apa yang ada di balik gejala yang ditangkap oleh inderanya. Oleh sebab itu, dalam melihat sebuah karya seni masalah bentuk dan isi karya adalah masalah yang saling berkait. Bentuk adalah segala hal yang membicarakan faktor intrinsik karya, mulai unsur, struktur, simbol, metafora dan lain sebagainya. Sedangkan persoalan isi mempertanyakan nilai kognitif-informatif, nilai emosi-intuitif, nilai gagasan, dan nilai-nilai hidup manusia.

Menonton sebuah karya senitari, pada hakikatnya merupakan kegiatan apresiasi terhadap senitari secara langsung. Mengadaptasi pendapat Aminudin (1953), apresiasi adalah kegiatan memahami karya senitari dengan serius sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan kritis yang baik terhadap karya tersebut.
Senitari, mengadaptasi pendapat Swingewood (1994), bisa dikatakan sebagai rekonstruksi dunia dilihat dari sudut pandang tertentu, yang kemudian dimunculkan dalam pergelaran senitari.

Karya senitari merupakan ekspresi penciptanya yang bersifat estetis, imajinatif, dan integratif dengan menggunakan medium gerak tari untuk menyampaikan amanat tertentu.

Persepsi atas Karya Seni 
Seorang apresian dalam melakukan penghayatan dan penilaian terhadap sebuah karya seni tidak bisa dilepaskan dari persoalan persepsi yang muncul ketika berhadapan dengan karya tersebut. Pada dasarnya persepsi muncul karena ada kesadaran terhadap lingkungan, dan melalui sebuah proses mental terjadilah interaksi antara penghayat dengan karya tari, sehingga menghasilkan pemaknaan dan penilaian atas karya tgersebut. Bisa dikatakan, persepsi dipengaruhi oleh banyak faktor. Manusia mempersepsi stimulus yang diamati berdasarkan struktur pengetahuan, atau skema yang ada pada dirinya. Jadi persepsi adalah kesadaran atas dunia sekitar berdasarkan informasi yang diterima lewat penginderaan, atau kenyataan faktual.

Ada tiga jenis persepsi untuk menilai karya seni, yaitu persepsi praktis, analitis dan apresiatf (Stephen C Pepper, 1976). Penggunaan masing-masing jenis persepsi berbanding lurus dengan tujuan dan pola berpikir seseorang dalam memaknai obyek. Persepsi praktis adalah kesadaran intelegensi dan respon psikologis yang diarahkan pada persoalan-persoalan praktis. Dalam hal ini repon yang diberikan terhadap rangsangan dilihat dari aspek relasi-fungsional. Obyek/stimulan ditanggapi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan akhir. Persepsi analitis memandang obyek sebagai instrumen untuk mendapat kualifikasi relasional, baik di antara obyek lain maupun kualifikasi atas bagian per bagian dari karya itu sendiri, atas dasar proses sebab-akibat. Atau, memasukkan setiap bagiannya ke dalam unsur yang dapat dikorelasikan dan diformulasikan ke dalam rumusan tertentu. Sedangkan persepsi apresiatif adalah usaha memandang stimulan sebagai media untuk memperoleh pengalaman yang memuaskan, sehingga diperoleh pengalaman estetis atas obyek yang diamati.

Dari pengertian tentang persepsi itu tampaklah bahwa sebagian besar faktor yang berpengaruh dalam pembentukan persepsi adalah kualitas pribadi pengamat, dan bukan kualitas obyek. Apa pun kualitas obyek maknanya sangat tergantung pada kualitas pribadi pengamat. Makna yang merupakan pola dalam rangka pembentukan persepsi diperlukan untuk menyeleksi dan memahami lingkungan serta untuk mengembangkan bahasa dan proses berpikir. Dalam kaitan seni, istilah bahasa bisa diartikan sebagai ungkapan hasil proses perasaan dan pikiran melalui elemen dan strukturnya untuk menyampaikan pesan.

Dalam mengapresiasi karya senitari, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi, yaitu:

• kemauan dan minat,
• sikap terbuka,
• kebiasaan,
• peka atau sensitif, dan
• kondisi mental.

Kemauan dan minat diperlukan untuk menikmati karya, sebab tanpa kemauan dan minat apresiasi tidak akan berhasil. Sikap terbuka diperlukan untuk menghindari sikap apriori terhadap suatu karya.
Jangan hanya karya yang disenangi yang dianggap baik, yang lain tidak. Seorang penghayat karya seni perlu membiasakan diri menghadapi karya secara intensif agar memiliki perbendaharaan rupa, gerak dan bunyi yang memadai dan selalu bertambah dan meningkat. Muaranya adalah munculnya kepekaan terhadap segala gejala rupa, gerak dan suara/bunyi yang ada di sekitarnya, baik secara parsial maupun kolaboratif. Kondisi mental dalam rangka apresiasi adalah, intensitas seseorang dalam melakukan penghayatan. Kurangnya intensitas karena adanya gangguan psikis akan menyebabkan apresiasi tidak maksimal.

Kepekaan menangkap gejala unsur seni dengan segala bentuknya merupakan tuntutan, karena kepekaan seseorang akan membantu menelusuri sumber kreasi dan estetik suatu karya, sehingga akan memudahkan dalam menangkap makna yang tersirat dari yang tersurat sebuah karya seni.

Seni sebagai Simbol
Manusia berpikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan simbolis. Manusia tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia secara langsung, kecuali melalui berbagai simbol, dan simbol ini memiliki unsur pembebasan dan perluasan wawasan. Artinya, sebuah ide jika dinyatakan dengan simbol, maka menjadilah sesuatu yang multi interpretable.

Kata simbol berasal dari bahasa Yunani symbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan tentang sesuatu hal kepada seseorang. Dalam kamus Poerwadarminta (1976) disebutkan, simbol atau lambang adalah semacam tanda atau lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal mengandung maksud tertentu. Selain animal symbolicus manusia juga homo creator, artinya manusia adalah mahkluk yang selalu berkreasi. Untuk menuangkan kreasinya manusia harus selalu berkarya. Hal itu karena selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, alam sekeliling ini tidak ada arti apa pun bila tidak ada karya dan sentuhan kreasi manusia.

Elemen-elemen senitari yang memang ada karena keberadaannya sendiri, dengan segala gejala visualnya, dan dalam kondisi nir-makna, memiliki potensi untuk menjadi simbol yang kemudian berarti dan bermakna. Senitari sebagai media seni akan dapat bermakna bila disusun dalam satu kesatuan struktur, dan struktur sebuah karya seni baru dapat kita pahami sepenuhnya bila kita melihat karya itu sebagai suatu tanda atau lambang. Dan hanya manusialah yang berhadapan dengan sebuah karya seni dapat memberikan arti itu. Tentu dalam pemberian arti itu pun, manusia tidak berdiri bebas dan sewenang-wenang, tetapi selalu dalam arus sejarah dan lingkungan masyarakatnya.

Cara dia menerima dan menyambut sebuah karya turut menentukan arti dan makna kehadiran karya tersebut. Hal ini sejalan dengan pepatah Jawa, lambang minângkâ piwulang.

Seni sebagai Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi antarmanusia, tanpa adanya media itu maka interaksi tidak akan pernah terjadi. Dalam kaitan dengan alat komunikasi, maka istilah bahasa dapat berujud: bahasa tulis/lisan, bahasa isyarat: misalnya bunyi peluit, morse; bahasa gerak tubuh: misalnya gerak tangan polisi lalu-lintas, tarian; atau bahasa bentuk: misalnya gambar/foto, termasuk lukisan.

Bahasa sebagai alat komunikasi bersifat universal, maka bahasa berfungsi untuk tujuan:

• Tujuan praktis untuk komunikasi antarmanusia.
• Tujuan artistik, yaitu ketika manusia mengolah bahasa guna mengungkapkan kebenaran intuitif. Intuisi adalah suatu jenis kebenaran yang hanya dapat ditangkap lewat perasaan dan penghayatan, lewat sejumlah gambaran kongkret inderawi atau biasa disebut imajinasi.
• Tujuan filologis, yakni tatkala kita mempelajari naskah kuna, latar belakang sejarah, kebudayaan dan lain-lain.
• Menjadi kunci dalam mempelajari pengetahuan lainnya (Gorys Keraf, 1976).

Jika proses ekspresi seni dianggap sebagai sebuah peristiwa komunikasi, maka karya senitari pun dapat dianggap sebagai bahasa, sehingga setiap elemen gerak dan rekayasa strukturnya yang ada dalam sebuah karya tari adalah identik dengan kata dan gramatika. Senitari sebagai bahasa simbolis memang menciptakan situasi yang simbolis, artinya penuh tanda tanya tentang hal-hal yang diungkap maksud dan arti yang dikandung dalam simbolnya. Dalam situasi simbolis, maka sebuah karya tari bukan bermaksud menerangkan atau menguraikan sesuatu. Sebab sesuatu yang simbolis bila diterangkan atau diberi penjelasan mendetil akan berkurang, atau bahkan kehilangan daya simboliknya.

Namun ada kalanya bahasa rupa tidak digunakan dalam maknanya yang simbolis, tetapi memang untuk menjelaskan gejala-gejala visual yang sangat nyata, bilamana diterangkan secara verbal maupun dengan bahasa yang lain akan tidak efektif, atau bahkan memungkinkan mengalami pendistorsian maksud/makna. Jadi, dapatlah disimpulkan, bahwa karya seni sebagai bahasa memiliki dua potensi, potensi sebagai bahasa simbolik dan potensi sebagai bahasa rupa, gerak dan suara secara denotatif. Dalam rangka mengkomunikasikan gagasannya, potensi mana yang dipilih oleh seniman untuk dimasukkan dalam karyanya sangat tergantung pada tujuan komunikasinya. Ketika muncul kesadaran, bahwa eksistensi kita menjadi lebih berarti bila kita berkomunikasi dengan lingkungan, maka saat itulah kita memerlukan alat komunikasi, dan alat tersebut bernama bahasa.

Dalam arti luas, bahasa tidaklah sekadar ucapan, tetapi lebih pada sifatnya yang simbolik. Dalam kaitan yang simbolik tersebut, bahasa dapat berupa gerak, bunyi, warna, garis, pendek kata segala hal yang dapat dipersepsi lewat indera dan telah memberikan dampak psikologis, kemudian ditafsirkan arti dan maknanya.

Karya seni adalah sebuah re-interpretasi dari interpretasi kultural. Karya seni adalah tafsir dari tafsir, sehingga kehadirannya bukanlah dari kekosongan, dan bukan juga dari perbuatan yang asal-asalan.

Komunikasi Seni
Ada dua pendapat tentang keberadaan nilai dalam sebuah karya seni. Ada yang bependapat bahwa nilai seni sebuah karya terletak pada benda dan senimannya. Namun dapat pula pencarian hakekat seni dilakukan dari aspek penerima seni. Artinya nilai sebuah karya seni tidak terletak pada bendanya atau penciptanya, akan tetapi bagi penerimanya. Kalau dilihat dari kaca mata komunikasi, maka bukan komunikator dan media yang membuat sebuah pesan itu berarti dan bermanfaat, tetapi interpretasi komunikanlah yang menjadikan pesan itu bermakna.

Dalam komunikasi seni ada tiga unsur utama yang saling terkait, yaitu seniman, benda seni dan publik seni. Bersatunya unsur-unsur komunikasi seni ini dalam satu peristiwa seni akan melahirkan apa yang dinamakan pengalaman seni. Benda seni yang diciptakan seniman akan diterima nilai-nilainya oleh publik seni dalam konteks sosio-kulturalnya.
Dalam masyarakat yang terbuka terhadap informasi nilai, persoalan komunikasi seni ini tidak lagi mudah terjalin. Sebab adakalanya nilai seni yang diterima dan dipahami senimannya tidaklah selalu sama. Bahkan berbeda jauh dengan nilai seni yang diterima dan dipahami masyarakat atau publik seni. Sehingga mudah terjadi kesalahtafsiran terhadap pesan.

Pertama, sebenarnya tidak ada karya seni yang rumit dan buntu. Karya seni sejati, seperti halnya lembaga kebenaran yang lain, selalu jujur, jelas, dan transparan, sebab yang ingin dicapai adalah kebenaran hakiki. Struktur jiwa manusia, dalam hal perasaan, intuisi, bawah sadar dan berpikir, sama saja dari dulu hingga sekarang. Apa yang dirasakan dan dipikirkan manusia dimana pun sama. Hanya cara mengungkapkannya itulah yang berbeda-beda. Terutama dalam aspek intrinsik struktur seninya.

Dan penguasaan struktur inilah yang menjadi bagian vital yang harus dikuasai oleh seorang seniman dalam berkarya. Tanpa penguasaan struktur sulit bagi seniman mengolah dan mengungkapkan perasaan, pikiran serta pengalamannya menjadi informasi yang ditransmisikan pada publik seni (komunikan). Demikian juga publik seni, tanpa mengerti, memahami, menghayati struktur keindahan akan sulit menangkap maksud seniman lewat media yang dimiliki dan diolah.

Kedua, kemunculan karya seni tidaklah bebas dari konteks nilai, baik nilai sosial, ideologi, politik maupun struktur sosial dan sebagainya, yang disebut nilai ekstrinsik. Pemahaman terhadap konteks nilai inilah untuk Indonesia menjadi sumber masalah kesenjangan informasi yang mengakibatkan gap komunikasi. Di satu pihak seniman yang berlatar belakang pendidikan seni formal, dimana pengetahuan dan nilai-nilai yang dipelajari mengacu pada nilai-nilai non Indonesia, sementara di pihak lain nilai-nilai modern yang ada dalam masyarakat belum kokoh terbangun, dan nilai-nilai lama juga sudah menjadi tak jelas.

Hanya bila kondisi ideal betul-betul terjadi, yaitu adanya kesamaan persepsi di antara seniman, benda seni dan publik seni, maka komunikasi seni akan berjalan secara sehat. Namun dalam kenyataan tidaklah selalu demikian.

Tari Klasik dan Pembaruan
Seni tari, khususnya bêdháyá, dalam tradisi Keraton selalu mengandung makna filosofis dan pesan simbolik-aktual sesuai kondisi dan situasi aktual pada zamannya. Misalnya Bêdháyá “Sang Amurwábumi”, diciptakan pada era kebimbangan pada tahun 1990-an yang memerlukan kepemimpinan bangsa yang berkarakter kuat. Bêksan bêdhâyâ adalah genre tari klasik gaya Mataraman yang unik, dimana nilai keindahannya menyatu antara penjiwaan penari dengan gemulai gerak tarinya yang mbanyu mili. Menurut tradisi, bêdhâyâ ditarikan oleh remaja puteri dengan komposisi sembilan orang penari. Namun, ada juga yang dibawakan oleh tujuh penari, seperti Bêdhâyâ Saptâ, dan yang ditarikan oleh enam orang, Bêdhâyâ Wiwâhâ Sangaskârâ dan Bêdhâyâ Mantèn. Selain ditarikan remaja puteri, juga ditarikan oleh remaja putera, Bêdhâyâ Jalêr, seperti penari Bêdhâyâ Hagoromo karya Didik Nini Thowok.

Jogèd Mataram memiliki kriterianya sendiri yang khas menyangkut dimensi yang luas, lengkap dan adiluhung. Selain menuntut kemampuan teknik menari yang prima dan utuh, juga mensyaratkan penguasaan total pada aspek batiniahnya, sawiji, grégêt, sêngguh, ora-mingkuh. Seorang parâgâ yang mampu menguasai empat baku senitari itu dengan sempurna, dapat dikatakan secara kultural-spiritual ia telah mencapai pada tataran “manunggaling kawulâ-Gusti“ oleh menyatunya penjiwaan seni peran lahir-batin. Ternyata, ke empat unsur itu koheren dengan inner realism yang mendasari totalitas seni peran gagasan Konstantin Stanilavsky, seorang koreografer teater Rusia Abad Pertengahan.
Pelestarian senitari klasik berarti melestarikan semua unsur dan karakteristik budaya klasik yang masih mungkin dan relevan. Pengembangan senitari klasik tidak untuk mengubah semua aspek dan nilai-nilai demi selera zaman. Tetapi yang diharapkan adalah pengembangan berbagai unsurnya, agar semakin menuju ke tataran adiluhung yang sebenarnya. Artinya, bukan senitari klasik yang dikorbankan demi penontonnya, tetapi penontonlah yang harus diedukasi untuk belajar menghayati pengembangan senitari klasik. Jika sekarang muncul berbagai kreasi seni pertunjukan yang sensasional, yang menggusur tata nilai keadiluhungan, bisa dikatakan bukanlah langkah maju. Namun sebaliknya, sebuah langkah melebar ke samping, ke sisi keisengan yang tanggungjawabnya masih perlu dipertanyakan.

Senitari klasik bêdhâyâ bersifat luwes dan lentur, tapi magis-filosofis. Demi lebih mengenal nilai keadiluhungan, sering disertai laku spiritual. Mésu-brâtâ, râsâ-jati atau yogâ-sêmèdi, dan berbagai laku lain yang sakral. Hal ini erat kaitannya dengan tiga prasyarat untuk mencapai nilai keadiluhungan, yakni: ciptâ, râsâ, dan karsâ. Ada pun penjabarannya, bahwa cipta-nya adalah: wêning, sêpi ing pamrih; rasa-nya adalah: râsâ-jati; karsa-nya adalah: nuhoni darmâ-bêkti. Dengan memenuhi tiga prasyarat tersebut, niscaya dapat diciptakan karya senitari masterpiece, namun harus dengan upaya tan kêndhat ing pambudi-dâyâ.

Sesungguhnya, kaidah-kaidah senitari klasik sudah dibakukan, karena itu unsur seninya seterusnya dapat disajikan secara abadi, mengalir tanpa putus berkesinambungan bagaikan hanyut dalam karakteristiknya yang mbayu mili tadi. Namun perlu diwaspadai, bila nilai-nilai sakral terlalu ‘kental’ atau mendominasi bentuk sajian, maka nilai hiburannya sebagai sebuah entertainment akan menjadi ‘encer’, atau hambar. Karena itu, bagi para pelaku seni yang mendambakan tataran keadiluhungan, dituntut kematangan, kedewasaan, kearifan, dan tentu saja, profesionalisme. Dalam komposisi yang seimbang antara muatan sakral dan entertainment, sesuatu yang adiluhung harus dapat menciptakan dimensi, berikut ini.

• Hamêmayu-hayuning jalmâ: meningkatkan kesadaran tentang makna dan martabat hidup manusia.
• Hamêmayu-hayuning prâjâ: meningkatkan arti kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
• Hamêmayu hayuning bawânâ: menjadi dan meningkatkan makna tata kehidupan dunia yang lebih harmonis.

Umumnya orang lebih merasakan kebudayaan, juga senitari klasik, sebagai kata benda atau warisan, Sedang seniman luluh dalam kata kerja, yaitu perkara yang harus terus-menerus digali dan dipelajari. Seandainya para pengampunya tidak berbuat apa pun terhadap warisan budaya ini, senitari klasik mungkin sudah lama punah. Usaha-usaha penggalian dan penjelajahan itu tidak hanya sekarang saja dilakukan. Sejak dulu pun sudah ada, misalnya dalam seni pewayangan. Ada wayang krucil, wayang klithik, wayang wahyu, wayang Pancasila, dan lain-lain. Seorang seniman menerima warisan ini sebagai amanah. Bila seniman senitari klasik sendiri tidak peka, tentu dalam jiwanya tidak tumbuh kewajiban menjalankan amanah itu. Mereka dapat bebas, cukup sebagai penonton saja yang hanya beridealisme, tanpa merasakan perlunya pembaruan.

Pengembangan mengindikasikan perubahan-perubahan menuju kesempurnaan, bukan pada tren penyimpangan. Jika sekadar ingin perubahan, satu hal baru dicobakan untuk kemudian diubah lagi kalau sudah membosankan, layaknya lagu pop atau mode busana. Padahal, berkesenian itu harus terus menggali, menimbun, menggali lagi lubang yang baru, dan begitu seterusnya.
Senitari klasik, selain tontonan, juga harus menjadi tuntunan. Jika simbol-simbol dan tata nilainya selalu saja diubah, agar supaya dianggap mampu berkreasi, lalu tuntunan macam apa yang dapat dipelajari dari sebuah pertunjukan?

Dalam perspektif ciptâ, râsâ, karsâ itu, senitari klasik adalah kata benda sekaligus kata kerja. Sebagai kata benda, ia adalah warisan yang perlu diagungkan dan dilestarikan. Sebagai kata kerja, perlu dikembangkan kesempurnaannya menuju strata adiluhung, yang penciptaannya harus dijiwai oleh tiga prasyarat utama tadi, Tri Karsâ.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*Wajib diisi

  • SAKSIKAN
    Dialog Budaya & Gelar Seni
    YOGYA SEMESTA

    setiap Senin pukul 19:00 WIB
    hanya di
  • Twitter ( #dewandikDIY )

    No tweets found.