Yogya Semesta ke-72 “Hamemetri Pusaka, Hambangun Kuncaraning Bangsa: Keris sebagai Warisan Budaya Dunia”

admin  -  Nov 19, 2014  -  No Comments

Para Narasumber yang dihadirkan adalah Ir. H. Erman Soeparno, MBA, Dewan Penasehat SNKI, yang meninjau dari perspektif pelestarian melalui Museum Keris, G.B.P.H. H. Drs.Yudhaningrat, MM, Pelindung/Penasehat Pametri “Tosan Aji” Yogyakarta, dalam perspektif pelestarian tradisi budaya Jawa, I Made Surawan, Pemerhati Seni dan Budaya dan Ki Bangunjiwa (Sugeng Wiyono), Pemerhati Tosan Aji, Pengarah Acara “Hamêmayu” JogjaTV, dalam perspektif filosofi dan sosiolisasinya lewat media TV. Moderator dialog adalah Hari Dendi, Pengasuh “YogyaSemesta”, didampingi co-moderator MarthaSasongko, presenter Radio/TV Swasta di Yogyakarta.
Gelar Seni berupa pergelaran Ensamble Musik Gesek “IENA” Pimpinan dan Music Director, Wisnu Samudra, menghadirkan repertoire The PieceWarrior diiringi Tari Balet “Keris”, Empowering Light, Mahameru,The Thousands Padma’s, The Golden Wall dan beberapa repertoire yang lain (total 11).

PADA 25 November 2005, keris telah dikukuhkan sebagai The Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” oleh UNESCO. Namun, masyarakat perkerisan Indonesia,masih gamang dalam menentukan Hari Keris Nasional (HKN) dalam kalender nasional. Ada tiga pilihan, tanggal penghargaan oleh UNESCO itu, atau Deklarasi berdirinya Sekretariat Nasional perKerisan Indonesia (SNKI), 12 Maret 2006 di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, yang diusulkan sebagai HKN. Selain itu, pakar keris, Haryono Haryoguritno, mengusulkan opsi ketiga, dengan merujuk tanggal Sumpah Palapa oleh Sang Amangkubhumi Gadjah Mada yang palingtepat. Persoalannya, belum ada bukti sejarah kapan Sumpah Palapa itu diikrarkan.

Keris dalam Budaya Jawa

Keris sangaterat kaitannya dengan kultur Jawa, karena menyimpan keunggulan teknologi nenekmoyang, era sejarah, nilai-nilai filosofi dan estetika. Konon, keris dalamwujud awalnya yang paling sederhana berupa wêsi-budâ sudah ada sejak tahun 700-an Masehi saat kejayaan Kerajaan Mataram Kuna. Keris atau curigâ,yang merupakan bagian terpenting dalam kelompok tosan-aji, di masa silamadalah lambang status yang menyiratkan kewibawaan seorang manusia Jawa. Menurut Babad Tanah Djawi, perkembangan seni-keris juga terkait erat dengan sejarah timbul-tenggelamnya kerajaan di tanah Jawa.

Tetapi sejak UNESCO mengukuhkannya sebagai warisan mahakarya dunia non-bendawi –artinya nilainya melebihi nilai takar teknologi dan estetikanya– setelah pengakuan terhadap wayang dan disusul oleh batik, keris menjadi budaya milik dunia. Di masa kini,keris merupakan simbol kemerdekaan suatu bangsa yang tak lagi hidup dalam penjajahan oleh bangsa lain dalam bentuk apa pun. Pengakuan itu hendaknya mendorong Pemerintah dan masyarakat pecinta keris untuk berpartisipasi melestarikan keris. Sebab kedua hal ini, yakni adanya dukungan komunitas kerisdan upaya-upaya melestarikannya, adalah yang menjadi dasar pertimbangan pengukuhannya sebagai warisan budaya dunia, selain adanya dukungan naskahakademik.

Dalam budaya Jawa dikenal konvensi kultural bâpâ-tâpâ, anak-nâmpâ, putu-kèlu,buyut-katut, canggah-kêsrambah yang ada dalam dunia perkerisan. Sehingga para pinisêpuh banyak mengungkap pesan, agar anak-cucu senantiasa élinglan waspâdâ terhadap tawaran sesaat gebyar dunia dengan mengedepankan lakuprihatin. Hidup bukan untuk diri-sendiri, tetapi memprihatinkan anak keturunan atau generasi penerus. Dalam dunia tosan-aji, manusia Jawa merumuskan sebuah doa yang diwujudkan dalam sebentuk keris. Doa itu dilantunkandalam laku melalui tâpâmati-râgâtâpâ-bisu dan lainnya.

Laku prihatin dari êmpu atau pemesan keris pun bukan main dan bukan main-main. Tidak sehari dua, tapi hampir enam bulan, bahkan lebih. Maka, tidaklah mengherankan jika keris yang diciptakan pun hebat. Keris hebat baru merupakan sebuah simbol yang menuntut kehebatan pemiliknya pula. Artinya,apakah si pemilik mampu menebar ‘gândâ arum-matarum’ dalam kehidupan didunia ini. Hal ini yang terkadang ditangkap salah oleh para pecinta keris. Kemudian keris diminyaki dengan berbagai wewangian. Sejatinya yang dimaksud menebar ‘gândâ arum’ itu harus dilambari ulat manis kang mantêsi,ruming wicârâ kang mrananisinêmbuh laku utâmâ.

Artinya, sipemilik keris harus senantiasa menebar senyum kepada siapa pun juga, berbicara dengan baik, tanpa menyakiti orang lain disertai dengan tindak kebaikan. Tanpasikap yang dituntut sebuah keris seperti itu, maka keris setangguh apa puntidak akan memiliki arti dan manfaat bagi pemiliknya.

Manunggaling Kawulâ-Gusti

Sejak UNESCO mengukuhkan sebagai warisan mahakarya dunia non-bendawi, keris kemudian menjadi budaya milik dunia. Pengakuan itu hendaknya mendorong masyarakat perkerisanuntuk berpartisipasi melestarikannya. Sebab kedua hal ini, adanya dukungankomunitas keris dan upaya-upaya melestarikannya, adalah dasar keberlanjutanpengukuhannya sebagai warisan budaya dunia. Bakdâ Pameran MahakaryaKeris Ngayogyakarta Hadiningrat Tahun 2009, dan Lomba Estetika Keris NasionalTahun 2011, rasanya belum ada lagi forum besar di Yogyakarta sebagai upayamemberikan apresiasi keris sebagai pusaka budaya dalam rangka memberikankontribusi pengembangan keris tangguh kamardhikan, atau dikembangkannyakeris tangguh Ngayogyâkartâ Hadiningrat. Sebab, kegiatan semacam itu berarti menandai adanya upaya-upaya untuk ‘menghidupkan’ seni keris di tengah komunitas perkerisan Nusantara guna memberi nilai tambah pelestariannya sebagai warisan budaya dunia.

Keris amaterat kaitannya dengan kultur Jawa, karena menyimpan nilai-nilai filosofi, erasejarah, keunggulan teknologi nenek-moyang, dan estetika. Secara filosofis,konsep “Manunggaling Kawulâ-Gusti” atau wahdatul wujud, terteradalam ungkapan curigâ manjing warângkâwarângkâ manjing curigâ,atau menyatunya insan dengan Sang Khalik: hablun minallah. Sedangkan dalam hubungan horisontal antarmanusia –hablun minannas—filosofi inimerupakan gambaran dari cita-cita ideal tentang “menyatunya pemimpin dengan rakyatnya”. Dimana pemimpin memahami aspirasi rakyat dan mau menyantuni mereka dengan baik, sehingga rakyat bersedia “mengabdikan” diri dengan ikhlas. Pada pokoknya, ada keterkaitan erat dalam visi antara leadership dengan followership.

Sebab, pada hakikatnya, pemimpin memang harus menjaga, mengayomi, menata, dan menghidupkansemangat rakyat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, rakyatpun harus bersedia “mengabdikan diri” kepada pemimpin, dengan cara melaksanakan segala kebijakannya, sehingga terjadi harmonisasi dalam tata kehidupan masyarakat. Karena itu dalam kultur Jawa, seorang pemimpin seakan “Pangèrankang awujud”, yaitu sebagai tempat “pangèngèran”, yang artinya“tempat berlindung dan pengayoman”.

Dalam kontek sungkapan tersebut, pemimpin dilambangkan sebagai “keris” yang dimasukkan kedalam “sarungnya”, melambangkan “masyarakat yang dipimpinnya”. Tentu akan bermasalah jika keris terlampau panjang, atau terlalu besar. Atau sebaliknya,jika sarungnya terlalu kecil. Demikian pula hubungan antara pemimpin danrakyatnya akan selalu dirundung masalah, jika terjadi perbedaan visi, ketidaksesuaian, atau dis harmoni, seperti halnya sering kita rasakan dalam pemberantasankorupsi. Para penegak hukum terkesan lambat dalam penanganannya, sebaliknyarakyat sudah lebih cepat menyimpulkannya karena menggunakan akal sehat.

Keris Pusaka

Keris merupakan salah satu ikon budaya Nusantara yang sudah terkenal di dunia. Namun, walaupun budaya keris telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Nusantara, kita dapat menilai, bahwa di Jawalah kerumitan budaya keris mencapai puncaknya,karena di Jawa pulalah keris dilahirkan. Bagi seorang lelaki Jawa di masasilam, keris tidak dapat dipisahkan dengan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Musafir Cina Ma Huan yang mengunjungi Jawa pada Abad-14 mencatat, tidak ada lelaki Jawa yang meninggalkan rumah tanpa menyandang sebilah keris. Pada awal Abad-19, Raffles juga mencatat hal yang sama.

Paling tidakselama 5 abad dan sangat mungkin lebih, keris selalu menemani pria Jawa Dalam tradisi, seorang pria belumlah paripurna bila belum memiliki keris pusaka,karena keris tidak hanya senjata. Keris adalah cerminan nilai-nilai ideal dalam hidupnya. Di dalamnya tersirat pandangan hidup, harapan, dan status sosial penyandangnya. Bahkan lebih dari itu, keris juga dipandang memiliki kekuatan supranatural yang dapat mempengaruhi kehidupan sang pemilik. Keris bukan lagi dipandang sebagai sebentuk besi yang mati, tetapi dipandang sebagai sesuatuyang hidup, yang memiliki kehendak dan kekuatan. Dengan demikian, pembuatan danperlakuan terhadap keris selalu diliputi oleh penghormatan dan upacara yang sesuai.

Bagi Kratondan para bangsawan, keris bahkan bernilai lebih tinggi lagi. Keris tidak hanya dipandang sebagai simbol nilai ideal dan kekuatan. Keris, atau pusaka pada umumnya, adalah salah satu sumber legitimasi kekuasaan Raja. Pusaka, disamping“wahyu kêdaton” atau “cahyâ nurbuat”, keturunan dan dukungan daribangsawan lainnya, merupakan pilar kekuasaan Raja. Dalam setiap pusaka,terkandung kekuatan yang menjadi sumber legitimasi Raja. Pentingnya arti pusakacermin dalam bangunan Kraton Jawa. Gêdhong Pusâkâ yang merupakan tempatpusaka-pusaka utama disimpan, selalu berada pada titik sentral kerajaan.

Sepertidiketahui, sistem pemerintahan di Jawa disusun berdasarkan Mandala,dengan Kraton sebagai pusatnya, sedangkan Gêdhong Pusâkâ merupakan titik sentral Kraton. Dengan demikian, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa Gêdhong Pusâkâ, dan pusaka-pusaka yang tersimpan di dalamnya adalah titik pusat negara, sumber pancaran kekuatan dan kekuasaan negara berasal. Di KratonNgayogyakarta Hadiningrat, Gêdhong Pusâkâbernama Bangsal Prâbâyêksâ.Prâbâ berarti sinar, sedangkan yêksâ berarti sangat besar atau raksasa. Dengan demikian, jelaslah maksud penamaan ini, dari Bangsal Prâbâyêksâ-lah sinar kekuasaan terpancar ke seluruh negeri, bagaikanmatahari yang menyinari dan mengerakkan jagad raya.

Mengingat arti penting dan kekuatan yang diyakini terkandung dalam sebuah pusaka, di masa lalutidaklah mudah bagi orang biasa untuk memiliki pusaka-pusaka yang berasal dariKraton. Penganugerahan pusaka selalu dipertimbangkan dengan masak oleh Raja,dan pusaka yang berada di luar Kraton selalu diupayakan untuk ditarik kembalike dalam Kraton. Seseorang yang menerima anugerah tidak hanya menerima sebuahkeris yang berharga, tetapi sesungguhnya menerima sepercik api kekuatan Kraton,“téjâ” atau “wahyu kêdaton” yang keramat, sumber kekuatan danlegitimasi kerajaan.

Dalampenganugerahan tersebut cermin kepercayaan dan restu dari Raja kepada seorangpejabat atau bangsawan untuk memegang amanah menjalankan kekuasaan Raja. Karena penganugerahan pusaka-pusaka utama kerajaan kepada para bangsawan tidaklahmungkin kecuali dalam kasus-kasus khusus, maka Raja perlu membuat pusaka-pusakabaru, baik sebagai putran (duplikat) pusaka utama, maupun keris pusakayang benar-benar baru. Pusaka-pusaka baru ini haruslah mampu mencerminkan nilainya sebagai pembawa “téjâ” atau “wahyu kêdaton”.Kualitasnya, baik secara materiil, teknis maupun spiritual, harus tidakdiragukan lagi. Untuk itu, dikumpulkanlah êmpu-êmpu pembuat pusaka terbaik dari seluruh negeri, guna memenuhi kebutuhan kerajaan. 4

 

Mengingat tingginya nilai pusaka yang harus dihasilkan,pembuatan pusaka di lingkungan Kraton selalu dikerjakan oleh êmpu-êmpu yangmumpuni, dengan bahan baku terbaik dan diikuti dengan upacara dan sesajiyang lengkap untuk memastikan bahwa pusaka yang dihasilkan memiliki kualitasyang dibutuhkan. Namun demikian, mengingat kesulitan teknis yang dihadapi,usaha tersebut tidaklah selalu berhasil. Keris-keris kualitas terbaik yangdapat dihasilkan disimpan di dalam Gêdhong Pusâkâ, atau dianugerahkankepada para bangsawan tinggi atau pejabat tinggi kerajaan.

Sementara itu,di luar tembok Kraton, pembuatan keris untuk memenuhi kebutuhan Raja dan rakyatjuga terus berjalan. Di Yogyakarta dikenal beberapa pusat pembuatan keris, diantaranya di desa Ngenta-enta, Godean, beberapa kilometer sebelah BaratYogyakarta. Di desa tersebut hidup secara turun-temurun para êmpu yangmembuat keris, baik atas pesanan maupun untuk dijual secara bebas. Adanya êmpuKraton yang berasal dari desa ini membuktikan bahwa kemampuan para pembuatkeris di desa Ngenta-enta sesungguhnya cukup tinggi.

Seiring denganberjalannya waktu, bahkan tradisi yang telah berlangsung berabad-abad dapatberubah tergerus perubahan zaman. Fenomena ini, terjadi karena pergeseran maknaterhadap keris. Keris pusaka yang dahulu kala “sinêngkêr” dan sakral,tidak dapat dilihat sembarang orang, saat ini telah keluar dari “sangkarnya”,dan seringkali dapat dilihat dalam berbagai pameran keris.

Namunselain menikmati keindahan keris sebagai karya adiluhung masa lalu ini,hendaknya kita juga merenung mengenai maknanya, simbol-simbol yang melekat padakeris, dan berupaya mencari relevansinya dalam konteks masa kini.

Penanda Zaman

Bagi pecintakeris, tentu tidak asing dengan istilah-istilah, misalnya keris dhapur kâlâ-munyêng.Secara linguistik, kâlâ-munyêng terdiri atas kata kâlâ yangberarti waktu, danmunyêng berarti berputar terbalik. Tetapi, kâlâ-munyêngjuga dapat diurai dalam dua akar kata, kalam yang artinya tulisan,dan unyêng berarti arah yang terbalik atau anti clockwise. Maknaspiritual yang tersirat adalah, sebagai seorang manusia janganlah kita bersikapdan berperilaku adigang-adigung-adigunâ. Sebab apa pun yang kita miliki,kekayaan, kekuasaan, kepandaian bisa dengan mudah diputarbalikkan oleh YangMaha Kuasa hanya dalam waktu sekejap. Sebagai manusia haruslah éling lanwaspâdâ, dan hanya bersandar kepada Yang Maha Kuasa, yang disimbolkandengan gandhik. Keris kâlâ-munyêng ini diciptakan saat peralihankekuasaan Majapahit ke Demak, yang menyiratkan pesan kesejarahan, bahwa sebagaikerajaan yang begitu besar, bila Tuhan menghendaki, Majapahit pun bisamengalami keruntuhan yang tak terelakkan.

Dalam kurunwaktu yang sama, juga terdapat keris yang tak kalah kemasyhurannya, kerisdhapursisik sèwu yang lebih dikenal sebagai dhapur nâgâsâsrâ. Keris inimuncul pada saat proses disintegrasi terjadi di Majapahit saat itu. Situasiyang memprihatinkan inilah yang memunculkan keris dhapur nâgâsâsrâ sebagaisimbol persatuan dan kesatuan di bumi Majapahit sebagaimana yang diidamkan olehsêsêpuh kerajaan. Pada zaman Mataram, pernah muncul keris-keris kinatahgajah singâGajah singâ ini memiliki makna angka tahun 1605, yangmenandai masa berakhir dan berhasilnya penumpasan pemberontakan Patih Pragoladi Pati.

Artinya, kâlâ-munyêng,nâgâsâsrâ, gajah singâ jelas merupakan penanda kalender waktu yang ditandaidengan keris tangguh zaman tertentu.

Pakem “PâncâWaton”

Jika dirunutdari catatan-catatan kuna, interpretasi seni dalam perkerisan sangatlahkompleks. Apa yang disebut ‘estetika keris’, Ir. Haryono Haryohuritno dalambuku “Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar” menggolongkannya dalamkriteria rasional dengan pakem”Pâncâ Waton”. 5

 

Yaitu cara penilaian berdasarkan penghayatan pada ’guwâYẦ’(nuansa ekspresi), keindahan tatanan ‘paMOR’ (pola dekorasi), ‘wâJẦ’(baja), ‘wêSI’ (besi), dan ‘gaRAP’, atau pembentukan keris yangdianggap bagus, yang disebut ‘YẦ-MOR-JẦ-SI-RAP’. Akronim ‘RAP’kemudian bergeser menjadi ‘NGUN’ atau ‘waNGUN’, yakni bentuk yangserasi dan harmonis. Untuk menilai pamorwâjâ, dan terutama garapatau wangun yang dianggap baik, sangat berkait dengan wawasan danpengalaman melihat nilai-nilai yang terkandung dalam keris. Maka untuk menjadi“mengerti keris” dibutuhkan pengalaman analisis yang melatari wawasan terhadappengetahuan keris. Aspek seni yang sangat menonjol pada keris adalah bentukrupa atau dhapur dan konfigurasi layer dari lapisan pamor,karena merupakan objek visual paling utama pada wilah keris.

Namun dijumpaipula tidak selalu harus dipenuhi adanya setiap unsur tersebut. Misalnya padakeris kêlêngan tanpa pamor, bahkan bisa menjadi media estetika seni paraêmpujaman dahulu. Para êmpu menyajikan senirupa keris kêlêng,polos tanpa pamor, menggambarkan kehebatan penyediaan besi dan bajanyayang indah.

Pengolahan tempa-lipat besi dan baja sangat membutuhkan kesabaran dan perasaan agarpemanasan bara api mencapai saat yang tepat untuk ditempa.

Teknik Metalurgi

Di sisi lain,percobaan laboratorium radioaktif menunjukkan bahwa keris-keris yang tergolong“panas” biasanya memiliki kandungan radioaktif tinggi. Konsekuensinya, pancaranradiasi yang ditimbulkan menyebabkan tidak semua orang secara fisik mampumenahannya. Salah satu cara menetralkan bahaya radiasi tersebut denganmenyarungkan bilah keris ke dalam rangka kayu-kayu tertentu, yang secara ilmiahdapat meredamnya. Di antaranya adalah kayu timâhâ, trêmbalu, cêndhânâ,awar-awar, galih asêm, liwung, bahkan terkadang juga gading gajah. Sebagaitangkai, ukiran atau dhêdhêr, biasanya dibuat dari kayu kêmuning,tayuman, dan sejenisnya. Kayu-kayu tersebut secara laboratori telahmembuktikan mampu menahan daya radioaktif dalam kategori baik. Artinya, jikakeris disarungkan ke dalam rangka yang terbuat dari kayu-kayu tersebut, makaefek negatif radioaktif yang dipancarkan akibat menyatunya material keris dapatdiredam. Dalam terminologi klênik atau gugon tuhon selama inidikenal dengan berbagai istilah: keris panas, tidak kuat kanggonan, dansejenisnya.

Padahal, semuaitu dapat dibuktikan secara ilmiah. Pertanyaannya, bagaimana penguasaanteknologi para êmpu, sehingga mampu memilih bahannya, dan menciptakandhapur-dhapuryang tergolong panas tersebut. Keris dengan bahan yang sama tetapi denganbentuk atau dhapur yang berbeda seringkali memiliki kadar radioaktifyang jauh berbeda. Misalnya, keris dengan dhapur butâ ijo dengan pamorganggêng kanyut dengan keris dhapur jalak meski dengan pamor yangsama, seringkali diapresiasi dengan nilai yang sangat berbeda. Butâ ijo selaludikonotasikan negatif dan beraura panas, sebaliknya dhapur jalak dikonotasikansebagai keris dingin yang baik untuk dikoleksi.

Secara ilmiah,bangkitnya berbagai macam aura yang ditimbulkan oleh keris tidak terlepas darikandungan materi dalam keris itu sendiri. Dalam dunia perkerisan yang benar,keris selalu dibuat dari bahan dasar baja yang dicampur dengan berbagaimaterial, misalnya meteorit, nikel, dan logam-logam lain yang menimbulkankeindahan fisik tertentu. Apresiasi terhadap seni pencampuran ini tergambarjelas ketika pamor keris menjadi ukuran tinggi rendahnya estetika.Campuran antara materi baja dengan meteorit, dengan teknik tempa lipat,menjadikan perubahan molekuler meteorit yang mampu membentuk keindahan fisikkeris.

Kekaguman kita terhadap seni olah logam ini, bahwa para êmpu telah berhasil menembus kecanggihan teknologi, sehingga material logam yang secara ilmu metalurgi modern diklaim sangat sulit untuk disatukan, tetapi justru merekatelah menjawabnya berabad-abad yang lalu dalam sebentuk keris.

 

Museum Keris

Konon, kosakata‘museum’ berasal dari bahasa Yunani: ‘museion’, yang sejatinya adalahsebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan IlmuPengetahuan. ‘Museion’, selain tempat suci pemujaan Dewa-Dewi, adalahjuga tempat berkumpul para cendekiawan yang mempelajari dan menyelidikiberbagai ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, pengertian museum dewasa ini,menurut definisiInternational Council of Museum di bawah UNESCO, adalahlembaga yang bersifat tetap,non-profit, melayani masyarakat dan terbukabagi umum

Fungsinyaadalah memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan benda-benda bersejarahpembuktian manusia dan lingkungannya untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan danrekreasi. Museum masakini, antara lain memiliki fungsi sebagai pusat dokumentasidan penelitian ilmiah, penyaluran ilmu untuk umum, penikmatan seni, perkenalanbudaya antardaerah dan antarbangsa, obyek wisata, media pembinaan pendidikankesenian dan ilmu pengetahuan, suaka alam dan suaka budaya, cermin sejarahmanusia, alam dan kebudayaan, serta sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepadaTuhan Yang Maha Esa.

Jikabenar-benar berdiri, Museum Keris Ngayogyakarta nanti, mungkin menjadi yangpertama di Indonesia. Keberadaannya layak menjadi wahana pembelajaranpengetahuan tentang berbagai misteri perkerisan sebagai pusaka budaya bangsadan dunia, untuk menyambut penghargaan UNESCO sebagai warisan mahakarya duniatak-teraga yang tiada ternilai. Betapa tingginya nilai itu dapat kita telusuridari keris pertama yang terbuat dari bahan baku wêsi budâ yang sudahdigunakan pada sekitar tahun 700-an Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuna.

Sayangnyaseringkali banyak pihak terjebak pada nilai ‘mistis’ keris seperti yang banyakditayangkan dalam sinetron perdukunan. Kekeliruan menilai dan menempatkan kerisini sudah saatnya diluruskan bersama, oleh pemerintah, pakar keris, pemilikrumah produksi, dan stasiun televisi. Jika hal ini diterus-teruskan, kitakhawatir UNESCO bisa menarik pengakuan itu gara-gara beranggapan keris identikdengan dunia perdukunan, mistis, dan sihir yang tidak sesuai dengan naskahakademik yang diajukan. Yang seharusnya dilakukan oleh para ahli keris adalahuntuk lebih mendalami dan mengkaji guna mengungkap rahasia teknologi metalurgiyang menjadi bahan baku keris.

Bagaimanamenilai keris secara proporsional, tak ada salahnya kita belajar dari Singapurayang menjadikan keris sebagai kebanggaan nasional. Maskapai penerbangan Singapore Airlines memakai nama Kris Lounge sebagai ruang tunggu VIP, layanan Kris Flyer,majalah Kris Magazine, dan Kris Shop untuk layanan penjualan suvenir di pesawat. Istilah-istilah manca itu, bersumber dari asal-usul kata “Kêris”yang konon pertama kali ditemukan pada sebuah lempeng perunggu dengan tulisan “Krès”pada sekitar tahun 825 di desa Karangtengah, maka penghargaan yangkomprehensif-layak dapat dilakukan oleh museum keris. Penghargaan seperti inikiranya dapat dijadikan sebagai upaya ‘wiradat sosial’ melengkapi ‘wiradatspiritual’ yang ditandai dengan upacara selamatan, yang biasanya diakhiridengan pergelaran wayang kulit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*Wajib diisi

  • SAKSIKAN
    Dialog Budaya & Gelar Seni
    YOGYA SEMESTA

    setiap Senin pukul 19:00 WIB
    hanya di
  • Twitter ( #dewandikDIY )

    No tweets found.